Jumat, 16 Desember 2011

Auf Widersehen Insha.....

Auf wiedersehn, Insha!!!
(Kisah Kronologi Cinta Santri Klasik)
By: Micdarul Chair El_Sharafi
Untuk mereka yang haus akan oase cinta
Di saat ekstase nonik Rusia kian memudar
Oh, Tuhan.......
Di atas sajadah bumi-Mu, sujud mereka basah
02 Ramadhan 1431 H
"Kak Arul, ingat tujuan dari rumah. Auf wiedersehn!!1" kalimat itu terukir indah dari tinta emas yang
dia goreskan dalam diaryku. Sejak mengagumi figur Aisya dalam kisah Ayat Ayat Cinta, dia mulai menggila
dengan bahasa Jerman…
Catatan kenangan yang dia abadikan dalam diaryku, senantiasa terngiang di setiap pikiran tatkala
berotasi mengingat memori tentangnya. Dia memang bukan Bunda Maria, yang dengan kharismanya
membuat para kardinal terlena hingga menyembahnya. Dia, bukan pula Putri Diana, yang dengan
keanggunan paras serta kastanya menjadi daim di buku sejarah.
Namun, dia ialah dia, Insha Anestasia. Sosok pertama terlukis di kanvas sukma. Titah Tuhan bagi
mereka yang tengah fana akan dzauq mahabbah2. Dia, laksana Aisya dalam kisah Ayat-Ayat Cinta. Lembut
hati, santun nan sejuk dipandang. Insha Anestasia, gubahan indah nonik-nonik3 Rusia.
Aku datangi, aku tak mengerti, dari mana, siapa aku. Begitulah kiranya perasaanku kala dia
menyatakan perasaan tulusnya kepadaku setelah prosesi sidang pleno OSIS eL Riyadl'08 terselenggarakan.
Ya, OSIS yang tengah berada diposisi puncak dalam kosmos para santri klasik. Hanya dalam jangka waktu
satu tahun, atmosfer pesantren serasa bernuansa beda. Pelbagai ragam kegiatan ekstra mendapat aplus
ratusan santri.
Bermuara kekagumannya terhadap namaku, terasaskan pula rasa mahabbah di antara kita. Memang
agak aneh sebab cintanya, hanya gara-gara sebuah nama. Tapi, apa daya manusia, tatkala Tuhan telah
berfirman.
Darinya pula, aku kian menyelami makna kalam Allah SWT: "Al akhilla' yaumaidzin ba'dhuhum li
ba'dhin 'aduwwun illal muttaqin"4; "Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi
sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa."
Dalam tendensi takwa kepada Allah, semangat cintanya mengembara. Jiwa fastabiqul khairat 5
tertanam di setiap jenjang hayatnya. Darinya pula aku mulai mengenal akan gatra hakekat cinta, yang tidak
1 Auf wiedersehn: Selamat tinggal dalam bahasa Jerman.
2 Fana': Sirna, Dzauq mahabbah: perasaan cinta. Istilah yang digunakan oleh Al Hajjaj dalam puisinya yang berjudul Ana Al Haqq,
Al Hajjaj.
3 Nonik-nonik: Sebutan untuk gadis-gadis belia Rusia.
4 QS: Az-Zukhruf, 67.
5 Fastabiqul khairat: Berlomba dalam kebaikan.
hanya mendewakan hak asasi secara nisbi, mengintimidasi koridor yang kuasa atas segalanya, Allah SWT.
Tanpa mempertimbangkan susila, rasa bangga mengumbar aurat kesucian. Apalagi jika hal tersebut
mendapat apresiasi spesial dari kaum adam.
Tak teringatkah mereka akan akhlak mulia Fatima Al Batul, ataupun Aisyah, istri Rasul. Tak
ingatkah siapa mereka berdua? Ataukah sekarang, kaum hawa lebih senang akan fantasi genderalis, seraya
mengabaikan putri serta istri Rasul mereka?
Biarlah hati nurani mereka yang menjawabnya......
*****
Setahun sudah, aku tinggalkan bumi pertiwi. Berkelana demi menimba ilmu agama di kota berjuluk
seribu wali. Sebuah kota gurun yang terletak di wilayah timur provinsi Hadhramaut, Yaman. Adalah Tarim,
kota yang pada tahun 2010 lalu mendapat gelar sebagai Capital of Islamic Cultural6. Asas primordial para
darwish sangatlah kental dalam sanaubari ahlinya. Kota damai nan sentosa, pelipur lara mereka yang tengah
merindu.
Kerinduan memang menjadi sahabat karib bagiku. Rasa ingin berkumpul bersama keluarga hanyalah
menjadi sketsa mimpi belaka. Abah, umi, adek Syafi', adek Haidar, mbah putri, pak lek, dan bu lek,
bagaimanakah kabar kalian? Sudahkah lumpur Lapindo menggilas rumah gubuk bambu kita? Ataukah…..
Insha adikku, bagaimana pula kabarmu? Masihkah engkau mengenang kakak dalam sukmamu?
Ataukah………
"Woooyyy, ngelamun aja! Ini Fatta Moez7 pesananmu," gertak Somad membuyarkan angananganku.
"Huft, ente Mad! Bikin orang jantungan ja!" bentakku padanya, sambil mengambil sebuah plastik
berwarna hitam darinya.
"Eehhmm, sedap banget bau pisang susunya. Dari tadi ngelamun akhirnya lapar juga," celetukku
dalam benak.
"Masykur yo, Mad! Sorry, aku tadi mikir yang di Indonesia. Eehh, tak tahunya ente main gebrak aja.
Mbok yo pake salam dulukan enak. Makan bareng, yuk!" tawarku sambil mengajaknya duduk di sampingku.
"Beneran, nich? Kamu gak lapar, tha? Entar minta beli'in lagi," ledek Somad.
"Ciye, mentang-mentang ente bisa makan cepet, terus aku nyerah, gitu!" balasku. "Udah, dech! Ayo
makan keburu rotinya dingin, nich!"
Segera aku santap Fatta Moez yang telah siap saji. Melihat aku yang amat agresif, diapun akhirnya
ikutan makan. Huufffttt, dasar Somad! Pake' malu kucing segala, pekikku di hati.
"Rul, kabar si Insha, gimana?" tanya Somad, membuka perbincangan.
"Entahlah, selama satu tahun ini, aku gak pernah kirim sms dia. Terakhir kali aku berpesan, saat aku
mau berangkat ke Yaman, "wa fi ikhtiyar la yaji' munfasil, idza taatta an yaji' muttasil"; Selama masih ada
yang dekat, pilihlah dia, janganlah pilih orang yang jauh disana. So, lupakanlah saja aku untuk sementara
waktu. Begitu kataku padanya, menyetir bait nadzam Ibn Malik, pengarang Alfiyah Nahwi itu lho, Mad…,
tau kan?!" responku menjawab pertanyaannya.
"Ehmm, gaya banget lo! Kayak uda gak mau ama dia, ja!" gojloknya.
"Somad, Somad…" gerutuku sambil geleng-geleng kepala mendengar gojlokannya.
6 Capital of Islamic Cultural: Pusat Kebudayaan Islam.
7 Fatta Moez: Makanan kolaborasi antara susu, madu, roti, dan pisang. Biasanya, menjadi pelengkap makan siang.
"Jelas aku gak tegalah, membiarkan dia menunggu tanpa ada kepastian. Lima tahun itu beribu hari,
Bos!" jawabku tegas.
"Yah, dikasih kepastian dong, Rul! Tinggal bilang "I love You", bereskan. Dikhitbah, terus nikah.
Selesai masalah. Sekarang aku yang kasihan ama dia. Kalau dia bisa melupakan ente, gonna be ok8. Tapi,
kalau dianya masih kesemsem9 ama lo, gimana coba? Bisa fatal akibatnya, Rul!" lanjut Somad.
"Entahlah, Mad! Aku jadi bingung nih. Uda deh, makanannya dihabisin aja dulu. Entar kalau aku
sudah enjoy, kita lanjutin lagi perbincangannya, key!" pintaku untuk tidak meneruskan arah pembicaraan.
Dalam benak aku mengakui bahwa sedikit banyak omongannya itu ada benarnya. Aku jadi merasa bersalah
pada Insha. Tapi, itu telah lewat, dan kini nasi sudah menjadi bubur. Percuma disesalkan, kilah batinku.
*****
"Ya Rabby innaka maqsudy wa mu'tamady10" ringtone handphone Sony K750i hitamku berdering,
pertanda ada sms masuk. Aku berpamitan pada Somad menuju kamar. Setelah kubuka, Subhanallah!!!! dari
Insha. Ia tahu nomer teleponku?? Siapa yang memberi tahu padanya?? Gusar hati keheranan.
"Maaf, benarkah ini nomernya kak Arul? Ini aku, Insha Anestasia. Kiranya telah lama, tak terjalin
komunikasi di antara kita. Kakak lupa ama Insha? Balas".
Kecamuk rasa dan pikirku kala itu teraduk jadi satu, takut, tapi aku rindu. Rindu mendayu. Tuhan,
tenangkan hamba…….
"Benar, ini nomernya kakak, Dik!! Bukannya ingin melupakan, namun biar adik tidak terikat dan
dapat memilih pendamping sesuai kata hati adik. Maaf, kalau selama ini kakak tak pernah kasih kabar.
Adik sendiri, gimana kabarnya?"
Belum 5 menit, handphone bututku kembali berdering. Kulihat, dari Insha lagi…
"Kakak, cermin wajah ini bertekuk merunduk pada sebuah pohon, yang terbiaskan mata air yang
jernih. Setiap rotasi jarum waktu berputar mengulangi hari yang aku lalui. Begitu cepat jarum-jarum
berkelana, seperti daun yang terhanyut akan arus sungai tebing curam.
Ketakutan untuk menatap melanda amarah, gelisah, menimbun dalam-dalam semua semangat,
harapan pudar, hilang terbang melayang berserta raga lemah dan rapuh.
Tak ada kuasa aku berdiri, hanya menunggu buaian mati...................
Inilah ihwal adik kala menunggu keabstrakan eksistensi kakak, dan kayaknya semuanya telah
terlambat".
Tak terasa air mata berlinang, isak tangis menyeruak, menggema dalam kehampaan ruang.
"Dik, kenapa sampean pesimis? Tak adakah lecutan semangat yang dulu kakak pernah kagum
padanya. Dik, saat ini kejujuran sampean sangatlah berarti. Masihkah hati adik berta'alluq11 dengan
kakak?"
8 Gonna be Ok: Tak ada masalah
9 Kesemsem: Simpatik, tertarik
10 ya Rabby innaka maqsudy wa mu'tamady: salah satu petikan lirik syi'ir karya Abdullah Alawy (Imam Haddad), dalam bukunya
yang bernama Diwan Haddad.
11 Ta'alluq: Hubungan antar hati.
Satu jam tanpa ada balasan darinya. Hingga akhirnya, aku tak kuasa menahan rasa kantuk. Jadwal
kampus begitu menyerap banyak energi. Aku terkapar dalam belaian lembut kasur berselimut putih, bau
parfum kasturi menyejukkan sukma.
*****
Ya Allah…!
Lima kali misscall dari Insha??!! Astaghfirullah, semoga dia tidak sedih. Satu sms masuk di inbox.
"Kakak, kuingin dadaku terbelah oleh perpisahan, agar bisa kuungkapkan derita kerinduan cinta.
Setiap orang yang jauh dari sumbernya, ingin kembali bersatu dengannya seperti semula.
Jangan tanya apa agamaku. Aku bukan yahudi, bukan zoroaster, bukan pula islam; namun, aku
mengerti jikalau suatu nama kusebut, dia akan memberikan arti yang lain daripada makna yang hidup
di hatiku, nama itu tak lain ialah namamu kak, Arul Chairullah!
Kak, andai besok Allah masih berkenan memberi nafas untuk Insha, bisakah kakak menemani
Insha webcame'an? Insha pengen banget ngungkapin apa yang sebenarnya terjadi selama kakak pergi
dari pondok, nggeh!"
Kenapa dia bisa berubah seperti ini??? Sebenarnya apa yang sedang dia alami??? Jiwaku serasa
gundah. Tapi mengapa??? Untuk apa??? Gelisah akan kehilangan, Itukah maknanya??? Aahhh, janganlah
terlalu berlebihan mengartikan perihal tersebut. Husnudzan saja, Rul!! Tukas hatiku menasehati.
*****
Sungguh melelahkan hari aktif kuliah. Mulai pagi sampai siang padat dengan berbagai kegiatan.
Pukul 14.00 nanti, janji webcame'an dengan Insha, ingat!!! Sejenak melepas penat, aku rebahkan diri di atas
kasur putihku.
"Mas, pukul 13.30 tolong bangunin, yach! Aku mau istirahat sebentar. Capek bener, Mas!" pintaku
pada mas Ubaid yang kebetulan seflat denganku.
"Lha, apa gak ghada'12 dulu, Rul? Entar kalo laper, gimana?" sambung mas Ubaid tanpa
menghentikan sorotan matanya dari LCD komputernya.
"Mangke mawon, Mas13. Lagi gak mood. Dalam penantian seseorang, gitu! he he he," candaku
sembari menutupi tubuh dengan selimut putih, serasi dengan warna kasurnya. Kembali, bau kasturi
menemani proses tidurku.
Sejenak aku rehat pikiran, hati, dan otak. Sambil mendengar tilawah Syekh Muhammad Shiddiq
Minsyawi dari tape Simba berdebu sebelah kasur yang telah aku siapkan sebelumnya. Aku hayati setiap
jenjang ayat yang dia lantunkan. Sejuk nan syahdu. Tentang kasih sayang Allah kepada para hambanya.
Tentang kronologi penciptaan manusia, penghormatan para malaikat dengan bersujud dihadapannya, lantas
menjadikannya sebagai khalifah di petala bumi, menghijaukan belantara hutan rimba, membentangkan
hamparan biru samudra, menghiaskan bumi dengan pernak-pernik flora, aneka ragam satwa dan.. dan.. dan..,
hingga aku tertidur pulas dalam tadabbur kalam-Nya.
*****
12 Ghada': Makan Siang.
13 Mangke mawon, Mas: Nanti saja, Mas.
Tepat pukul 13.30 sesuai rencana semula, mas Ubaid membangunkanku, setelah sebelumnya makan
sedikit nasi, akupun lekas sholat Dzuhur. Mengingat waktu sangat pendek, aku langsung menuju Tarimnet
yang berada tak jauh dari asrama kampus. Berkisar antara satu setengah kilo dari kampus.
Setapak demi sejangka, aku gayuhkan sepeda Hero hitamku menantang panasnya hawa sub tropis
daerah Hadhramaut. Sekarang memang bulan Juli, masa dimana suhu lahar padang pasir tengah memuncak,
mencekik tenggorokan para pelajar yang berjemur di bawah terik matahari kala mereka keluar flat, basah
kuyup dengan banjir keringat.
Alhamdulillah, akhirnya sampai pula di St. Kenya Hotel, lokasi dimana Tarimnet berada. Waahh,
sebentar lagi aku akan menatap aura gadis yang selama ini hanya bersemayam dalam sketsa pikiran.
Bercampur aduk suasana hati ini, dag dig dug begitulah yang terasa.
Tak sabar aku membuka laptop Compac Presario CQ60 berwarna hitam. Jam Seiko ditanganku telah
menunjukkan jam 14.10, terlambat 10 menit. Gawat!!!
Dengan tergesa, aku meminta kepada penjaga warnet berbaju biru itu, untuk meng-connect wireless,
beserta password-nya. Seusai terhubungkan, aku langsung menuju situs jejaringan yahoo messenger, ku
ketik m_chairsman90@yahoo.com dalam kolom yahoo id, dan sign in sebelum setelahnya mengisi
password.
Kulihat emailnya telah online mendahuluiku. Bergegaslah aku menyiapkan kamera webcame, ini..
itu.. Sampai ujungnya…..
"Assalamu'alaikum, kak Arul!" tegurnya sebelum aku sempat menyapa, wajah yang pernah aku
kagumi, kini terpampang di screen laptop Compac hitamku yang memang berukuran cukup besar, 15 inc.
"Wa'alaikum salam, Insha. Ini adik, yach? Tapi, wajah kamu kok kurus sekali?" kataku kepadanya,
setelah aku lihat guratan pucat di pelipis matanya.
"Iya, kak. Ini Insha, orang yang jatuh hatinya karena keindahan sebuah nama. Nama yang disanalah
para pujangga mulai mendendangkan syair mahabbah-nya. Insha telah sering hilang kesadaran sejak kakak
pergi meninggalkan pesantren. Insha tak dapat meluapkan rasa kerinduan Insha pada kakak. Dan
alhamdulillah hari ini, ialah hari disatukannya para pecinta buta," urainya sembari bulir-bulir putih bak intan
itu menetes satu persatu membasahi pipi puamnya.
"Kak, tak ingatkah sampean akan kesatuan jiwa dalam bingkai cinta yang pernah kita ceritakan?
Tentang seseorang di pintu Sang Kekasih dan mengetuk. Ada suara bertanya: 'Siapa di sana?'. Dia
menjawab, 'Ini aku'. Sang suara berkata: 'Tak ada ruang untuk aku dan kamu'. Pintu tetap tertutup. Setelah
setahun kesunyian dan kehilangan, dia kembali dan mengetuk lagi. Suara dari dalam bertanya: 'Siapa di
sana?'. Dia berkata, 'Inilah engkau'. Maka, sang pintu pun terbuka untuknya."
Suaranya menjadi serak, tangis isak tak lagi terbendung. Wajahnya terus merunduk, serasa tersipu
malu, merasa bahwa dirinya bersalah. Padahal tidak, tidak Insha, sekali lagi tidak!!! Engkau tak bersalah,
gumamku di hati meyakinkannya.
"Jiwa Insha serasa bersatu dengan kakak, meski ribuan kilo memisahkan. Insha lebih senang berada
di Auditorium OSIS. Sebab, disana Insha merasa kakak berada sangat dekat dengan Insha. Tempat dulu
kakak bercanda ria, menikmati hijau pelataran sawah, serta pesona biru putih langit pegunungan Welirang.
Entah apa kata orang akan perasaan Insha ini. Kayaknya Insha tersihir akan ucapan Qaiz Majnun: 'Ku
telusuri setiap jenjang bangunan, untuk menemukan rumah Laela. Kuciumi setiap tembok yang aku lewati.
Tidaklah karena cinta terhadap bangunan yang menjadikan hati bergelimang tanpa arah. Akan tetapi,
karena engkau (Laela) sang penghuni bangunan tadi14' begitula keadaan hatiku, Kak!!"
Kini kelopak mataku tak mampu membendung linang air mata yang terus deras mengalir. Ternyata
perasaannya kepadaku tak bergeser sedikitpun, bahkan semakin menggelora. Hatiku merasa iba akan kondisi
fisiknya yang kian kurus. Aku ingin berkata, namun dia terus bercerita…
"Kak, jujur saja! Setahun setelah kepergian kakak, Insha dijodohin ama Bu Nyai dengan Ust. Hakim.
Nurani Insha berteriak menolak. Namun sebagai santri, Insha tak mampu menentang dawuh seorang guru.
Mulai sejak itulah, Insha sering gak nafsu makan, tidur tak pulas jua. Kesehatan Insha semakin
menurun drastis. Menantikan kapan Tuhan menurunkan keajaiban. Insha terus memikirkan kakak. Andai
kakak berada di samping Insha, betapa cerahnya senyuman mentari kala fajar menyerka, irama merdu
kicauan burung pohon beringin di sebelah pesantren.
Insha hanya dapat mengandai dan mengandai, tanpa menemukan adanya titik harapan. Nihil dan
hampa. Sampai akhirnya, Insha divonis mengidap penyakit kanker otak, akibat kekurangan mengkonsumsi
makanan berserat," jelasnya dengan sedih.
"Astagfirullah, Adik!! Kamu sampai terkena penyakit kanker otak???!!! Mengapa sampean tega
menyiksa diri sendiri seperti ini?" tanyaku dengan nada sedikit kaget mengingat penyakit yang dideritanya
tidaklah ringan.
"Kak Arul yang Insha cintai, sedikit Insha kutip gubahan puisi yang ditulis oleh Jalaluddin Rumi:
'Dan aku rasa kematian adalah jalan menuju bahagia, serta akhir dari seantero derita.' Lebih baik seperti
itu, daripada Insha meletakkan cinta tidak pada orang yang Insha cintai," paparnya dengan intonasi yang
meyakinkan, seakan dia yakin kerangka pikirnya telah benar.
"Dik, kok jadi pesimis dalam menjalani histori hidup ini. Mana semangat yang kakak lihat selama
ini? Telah padamkah semangat itu?" hatiku serasa hancur mendengar rasa putus asanya akan hidup.
"Kak, setiap umat mempunyai batas waktu. Maka apabila telah datang waktunya, mereka tidak dapat
mengundurkannya sesaat pun dan tidak dapat pula memajukannya. Dan Insha rasa telah tiba waktu Insha
pulang kepangkuan-Nya.
Kak, andai ini adalah pertemuan terakhir kita. Insha ingin berpamitan sekaligus meminta maaf atas
segala kekhilafan yang pernah terjadi. Dan izinkan Insha pulang dengan tenang melalui sebuah pertanyaan:
masih tersisakah hembusan cinta tulus kakak untuk Insha saat ini?"
Bingung, apa yang harus aku katakan. Kucoba menenangkan perasaan. Jikalau memang firasatnya
benar, maka harus aku relakan dia berpulang. Namun, tidak, semoga ini hanyalah skenario belaka, bukan
fakta.
"Petuah Sufisme Mevlevi berkata: 'Jikalau cinta ada di hati yang satu, pasti jua cinta berada di hati
yang lain. Karena tangan yang satu, takkan dapat bertepuk tanpa ada sambutan dari tangan yang lain.'
Orang yang mencintaimu adalah para pecinta yang tidak pernah sekarat. Kamu adalah kamu, kamu dan dia
adalah kamu. Ini adalah sebuah rahasia, jika engkau mempunyai cinta, engkau akan memahaminya,"
jawabku.
"Terima kasih, atas kalam kakak yang baru pertama kali ini terungkap. Telah lama Insha menunggu,
tiba pulalah saat yang telah dinantikan. Kak, nitip adik kecilku Syadid yang tengah mondok di pesantren
kakak dulu. Tolong sampean bimbing agar menjadi seperti orang yang seharusnya menjadi pendamping
kakak perempuannya. Pinter dan mampu menjadi ikon kebanggaan orang tua serta gurunya. Ampun supe,
14 Teks asal dalam bahasa Arab: Marartu 'alad diyar, diyari laela. Uqabbilu dzal jidar wa dzal jidar. Wa ma hubbud diyara
syaghafna qalby. Wa lakin hubbu man sakanad diyar.
ghe!15 Assalamu'alaikum, kak! Ana wal syaog daema16....." belum sempat terjawab salamnya, dia telah sign
out terlebih dahulu. Semoga engkau diberi jalan yang terbaik adikku, ucapku lirih.
*****
Tak terasa semester keempat telah usai, Materi kampus yang sangat padat membuat putaran jarum
jam serasa cepat.., dan untuk yang kesekian kalinya aku berhasil meraih predikat imtiyaz atau sempurna,
beribu ucapan selamat "alf mabruk" tertuju untukku.
"Rul, selamat yach! Jangan lupa Rasyus17 ama Qu'ud Masywi18nya nanti malam, key!" kata Mas
Ubaid.
"Okey, Mas! Apa sich yang gak buat musyrif19ku yang satu ini. Apapun yang diminta, bim salabim
abra kadabra, langsung ada di meja makan. He he he," balasku dengan bumbu guyonan.
"Oh ya, Rul! Kemarin kamu dicari petugas maktab barid20, kayaknya kamu dapat kiriman dari
Indonesia," sambung Mas Ubeid.
"Gitu ya, Mas! Oke, sekarang saja aku tancap kesana sekalian beli daging Untanya untuk tasyakuran
nanti malam, syukran informasinya, Mas."
Segera aku naiki sepeda ontel hitam Heroku yang aku parkir di depan flatku. Beranjak menuju lokasi
maktab barid yang berada di sebelah makam Syekh Salim Ba Dann, di St. Omgy Exchange. Agak jauh, tapi
mau bagaimana lagi. Siapa pula yang akan mengambil paket itu kecuali pemiliknya?? Oh ya, kira-kira siapa
yang mengirim, yach?? Abah, umi'kah?? Teman-teman pesantren?? Atau malah Insha?? Tapi apakah
mungkin dia?? Ha ha ha, tawa ria hatiku bersorak gembira.
Tiba-tiba,,,
Dooorrrrr…..,
Lecitan suara keras mengagetkan detakan jantung, membuyarkan lamunanku. Suara tadi begitu
dekat, spontan aku berhenti dan menengok ke bawah. Eehhh, ternyata roda sepedaku terkena paku karat
panjang. Untungnya, tak jauh di depan sana ada bengkel sepeda. Aku titipkan saja sepeda ontelku untuk
sekalian ganti ban yang lama kayaknya sudah tak layak pakai, pikirku sambil menuntun sepeda.
Terpaksa, dech! Aku harus menempuh separuh perjalanan dengan berjalan kaki. Mana sekarang
sudah adzan Ashar. Semoga saja kantornya belum tutup.
Kupercepat langkah kakiku, berjalan sigap, jenjang, dan cepat. Seperti jangka kaki teman Tanzania
kala mereka berjalan. Bilangnya jalan santai, tapi kayak lari marathon. Dasar, fisik mereka memang sangat
kuat…
Seperempat jam berjalan kaki, tibalah aku di maktab barid Tarim. Dari kaca tempat antrean, terlihat
salah seorang petugas berkumis tebal, melingkar di sekitar sudut merah bibir tebalnya, dengan berpakaian
khas petugas pos, baju hem pendek berwarna biru laut.
15 Ampun supe, ghe: Jangan sampai lupa, yach!.
16 Ana wal syaog daema: Aku senantiasa merindumu.
17 Rasyus: Sejenis roti bakar berbentuk bulat, berukuran sebesar nampan.
18 Qu'ud Masywi: Daging Unta yang dipanggang dengan arang.
19 Musyrif: Penanggung jawab, Ketua kamar.
20 Maktab Barid: Kantor pos.
Setelah aku menyelesaikan berbagai administrasi, petugas berkumis tebal tersebut menyuguhkan
amplop warna pink, bertulis "Untuk kakak tercinta di negeri sana, Arul Chairullah".
Perlahan, kulepas pelekat tutup amplopnya. Dua buah surat, dengan kertas warna putih dan pink.
Kubuka pelan-pelan kertas putih yang terletak di bagian atas, kucium kertas beraroma melati itu penuh arti
sebelum akhirnya kubaca kata demi kata berikut ini...
Assalamu'alaikum
Alhamdulillah, as shalah was salam 'ala Rasulillah, wa 'ala alihi wa ashabihi wa man walah, wa ba'da:
Kak, gimana kabarnya? Semoga senantiasa dalam perlindungan Allah SWT. Kak, adik dapat amanat dari
mbak Insha sebelum kepergiannya. Dia menitipkan sebuah surat untuk kakak.
Yah, mbak Insha telah tiada, Kak. "Bersabarlah dan janganlah bersedih", itulah pesan terakhir di saat dia
dirawat di RSUD Mojosari. Dia terkena penyakit komplikasi, mulai dari robekan pada saluran pencernaan,
benjolan pada rahim, hingga kanker otak. Dia telah dikebumikan di Makam Islam Pugeran. Tepat setelah
Ramadhan baru menginjak dua hari. Allahumma ij'al qabraha raudhah min riyadh jinan, amin21.
Khitam misk, kiranya inilah yang dapat adik sampaikan. Doa keluarga selalu teriring indah untuk
kakakku tersayang.
Sidoarjo, 25 Agustus 2010
Adinda Hassan Mutawakkil
Entah mengapa, aku merasa berat menegakkan badan. Sungguh amat berat. Ku coba menggapai surat
terakhir berwarna pink, bergambar Mickey Mouse kesukaanku.
01 Ramadhan 1431 H
Taheyatulla wa salamul malaikat muqarrabin
Auf wiedersehn...........
Kakakku yang tercinta, Arul Chairullah
Tak banyak yang akan Insha tulis, namun Insha minta agar kakak membacanya dengan lisan hati kakak.
Renungkanlah.........
Aku mati sebagai mineral dan menjelma tumbuhan,
Aku mati sebagai tumbuhan dan terlahir binatang,
Aku mati sebagai binatang dan kini manusia.
Kenapa aku mesti takut? Maut tak menyebabkanku berkurang!
Namun sekali lagi aku harus mati sebagai manusia,
Dan melambung bersama malaikat; dan bahkan setelah menjelma malaikat
Aku harus mati lagi; segalanya kecuali Tuhan, akan lenyap sama sekali.
Apabila telah kukorbankan jiwa malaikat ini, Aku akan menjelma sesuatu yang tak terpahami.
O,..biarlah diriku tak ada! Ketiadaanku tidaklah sia-sia.
Sebab ketiadaan menyanyikan nada-nada suci, “KepadaNya kita akan kembali”.
Dari orang yang sangat mengharapkan kasihmu,
Insha Anestasia
21 Tuhan, gubahlah kuburannya bagai sebuah pencerminan salah satu pertamanan surga, amin.
Ya Allah, ada apa dengan mataku? Banyak kunang-kunang melintas dalam pandanganku. Kepalaku
amat pusing, bagai dipukul palu. Jiwaku bergelimang dahsyat. Berkecamuk, perang batin kian menderu….
Aku terus mencoba untuk memeditasi diri. Tenangkan jiwamu, Rul!!! Ingatlah sabda Nabi bahwa
sesungguhnya hakikat kesabaran ialah di saat gebrakan pertama suatu musibah.
Namun, mengapa itu serasa berat bagiku??!! Apakah tabir keimananku masih terlalu tipis, sehingga
aku gampang terombang-ambing oleh badai cobaan?? Dimanakah ilmu syareat yang selama ini aku
pelajari?? Tak cukupkah itu semua untuk mendewasakan diriku??
Dan ketika aku menyebrang jalan, terdengar suara keras memanggilku. Sungguh amat keras….
"Ya Indonesiii!!!!!! awwwaaaaaaaaassss!!!!!"
Aku tersadar, dan…..
Bbrrrrraaaaakkkkkkk……….
*****
Dimanakah aku??!! Mengapa semuanya menjadi hitam dan gelap???? Terakhir kali, ketika aku
tengah menyebrang jalan, ada seseorang memanggilku dengan suara yang sangat keras. Kemudian setelah
itu, aku….
"Arul…"
Sayup-sayup aku mendengar bisikan sebuah suara. Suara itu serasa begitu dekat denganku. Yah,
suara tadi tidaklah asing bagiku. Tapi, dimana?? Kutengok kanan, kiri. Hampa, dan kosong. Semuanya gelap
gulita. Dimana???
"Arul, bangunlah!!!"
Kembali suara itu menggema. Bangun??!! Apa maksudnya?? Apakah aku sedang tidur, sehingga dia
menyuruhku untuk bangun?? Atau jangan-jangan aku……
Aaahhgg……
Cahaya dari mana ini?? Tiba-tiba sekelilingku menjadi terang. Mataku serasa pedih menahan silau
cahaya tersebut. Oh, Tuhan!!!! Aku semakin penasaran, apakah ini semua?? Aku coba untuk membuka
kedua kelopak mataku yang sedari tadi tertutup, menahan sorotan cahaya. Sedikit demi sedikit terbuka, dan
ternyata…..
"Arul…… Mas Ubaaaiiiid, Arul siuman!" teriak Somad tatkala melihat kelopak mataku mulai
bergerak ke atas dan ke bawah. Seketika itu pula, banyak orang berkumpul di sekelilingku. Aku tak mampu
melihat mereka dengan jelas. Mataku masih bunar, berkabut awan putih.
"Alhamdulillah, akhirnya kamu siuman juga. Sudah 10 jam kamu tak sadarkan diri, Rul. Kita semua
mencemaskan keadaanmu," lirih Mas Ubaid sembari matanya sangat berkaca.
"Mm.. Maa.. Masss, A.. rul dimana?" Kupaksa mulut ini hanya untuk sekedar berbicara menanyakan
keadaan yang sebenarnya, setelah akhirnya aku dapat menerka bahwa orang yang tengah berbicara itu adalah
Mas Ubaid, musyrif flatku.
"Tenang aja, Rul!! Kamu di Mustasyfa22 Tarim. Kamu tertabrak mobil sedan Camry saat kamu
menyebrang jalan. Untungnya, petugas maktab barid lekas membawamu ke sini. Kalau tidak, bisa lebih
darurat," papar Sahal yang berada tepat di samping kananku.
"Rul, kami semua turut berduka-cita atas wafatnya Insha. Jangan terlalu bersedih, yach! Ingatlah
nasehat Syekh Ahmad ketika Fahri terbaring sepertimu saat ini, bahwa pintu-pintu surga terbuka lebar untuk
orang yang sabar menerima ujian," tadzkirah Mas Ubaid membesarkan jiwaku, menguatkan hatiku.
"Kamu istirahat dulu, yach! Hari mulai gelap, kita mau balik dulu ke asrama, ada jam talaqqi qira'at
sab'ah di Madrasah Alydrus. Sebentar lagi Zaen akan kesini menemanimu. Sekarang, dia lagi nyari makanan
buatmu," lanjut mas Ubaid, sembari merangkulku layaknya adik sendiri.
"Allah yasyfiek syifa' la yughadir saqama wa la alama!"23 ucap mereka bergiliran seiring beranjak
satu persatu keluar meninggalkan ruang rawatku. Sungguh beruntung sekali, aku mempunyai teman seperti
mereka. Teman yang mampu tahabbu fillah, segan membantu tanpa pamrih, mencurahkan suka dan duka
dalam bingkai kebersamaan, kasih sayang yang tak memandang level mustawa ataupun usia. Sungguh,
merekalah sahabatku!!!
*****
Di malam sesunyi ini, bahkan aku sendiri tiada yang menemani. Zaen telah terbuai mimpi, mungkin
dia sangat letih, pergi kesana-kesini, memenuhi semua keperluanku. Biarlah dia menikmati masa
istirahatnya. Terima kasih, sobat!!!
Demi sekedar menghibur diri, aku ambil secarik kertas yang berada di meja coklat tempat obatobatku.
Tak sabar rasanya ingin segera menggoreskan tinta emas pena, mengingat memori indah tentang
dirinya. Dan akhirnya, aku tuliskan pula…..
Bahagia sejenak
kamu dan aku duduk di serambi
kita dua, tapi satu roh, kamu dan aku
kita rasa aliran air kehidupan disini
kamu dan aku dengan keindahan taman
dan burung-burung bernyanyi
bintang-bintang menatap kita
dan kita menanyakan mereka
Gimana mau menjadi bulan sabit kecil
kamu dan aku bukan diri, bakal menyatu
tak berasingan, betapa spekulasi kamu dan aku.
tiang surgawi bakal retakkan gula
waktu kita tertawa bersama, kamu dan aku
dalam satu bentuk di muka bumi ini
dan dalam bentuk lain di bumi manis
dikebebasan waktu yang tak tercatat.
Arul Chairullah, 240910
Wahai Merpati, haturkanlah salam anggunku untuknya, Insha Anestasia.
Assalamu'alaiki, ya man uhdiya bis shofwa wal mahabba.........24
Sumber Inspirasi: kado imajinasi Ultah ke 18, untuk adikku tercinta, yang telah pulang ke Hadirat-Nya, Ika
Nur Shalihah. Semoga persemayamanmu laksana pertamanan nirwana, amien……..
22 Mustasyfa: Rumah Sakit.
23 Semoga Allah menyembuhkanmu dengan kesembuhan yang tak ada bencana ataupun sakit setelahnya.
24 Salam sejahtera untukmu, wahai orang yang telah dikaruniai kelembutan nan cinta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar